RSS

Penggunaan Sistem Bagi Hasil Sebagai Upaya Peningkatkan Solidaritas Kelompok Penambang Sumur Minyak ( Studi Kasus di Desa Ledok, Kecamatan Sambong , Kabupaten Blora).

28 Nov

LATAR BELAKANG

             Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam atau sumber daya alam yang melimpah. Hampir disetiap wilayahnya terdapat berbagai potensi sumber daya alam, seperti potensi di sektor agraris seperti pertanian dan juga perkebunan serta di sektor penambangan seperti tambang minyak bumi yang sudah banyak diekspor keluar negeri. Dalam sektor agraris, khususnya pertanian lebih banyak terdapat didaerah pedesaan, hal itu karena lahan atau tanah yang disana masih dianggap sebagai sumber penghidupan bagi masyarakatnya sehingga mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Namun, sepertinya kepemilikan tanah sebagai lahan pertanian pun jumlahnya juga tidak sebanyak dulu, sehingga produksi akan hasil bahan pangan juga berkurang akibatnya negara kita harus mengimpor dari negara lain.

            Adanya keterbatasan jumlah lahan pertanian tidak membuat semangat dari masyarakat pedesaan yang ingin menggarap sawah dan menghasilkan padi sebagai sumber pangan mereka menjadi redup. Mereka akhirnya pun melakukan mekanisme sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil sendiri menurut Tim Shariate Economics Lecture ( 2006:50) didefiniskan sebagai partnership antara dua belah pihak atau lebih dalam satu proyek , masing – masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggung jawab atas usaha yang dijalankan dengan baik dalam kondisi yang menguntungkan atau sebaliknya.


             Pada umumnya sistem bagi hasil yang dipakai dalam kerja sama penggarapan lahan pertanian itu melibatkan dua pihak yakni si pemilik sawah dan penggarap sawah, dimana pelaksanaannya  dilakukan dengan kesepakatan bersama sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Pelaksanaan sistem bagi hasil dikalangan petani yang ada di pedesaan, sebenarnya tidak hanya didasari untuk memenuhi kebutuhan secara material saja berupa keuntungan tapi juga sebagi perekat komunikasi dan kekerabatan mereka.  Wahyuningsih (2008), Sistem bagi hasil maro sebgai upaya mewujudkan solidaritas masyarakat desa Jagung kabupaten Pekalongan, menyebutkan bahwa sistem bagi hasil maro yang ada di desa Jagung kabupaten Pekalongan tidak hanya dapat meningkatkan perekonomian warga yang melaksankan sistem tersebut saja, tetapi sacara tidak langsung juga juga dapat meningkatkan solidaritas  dalam masyarakatnya.

             Sistem bagi hasil tidak hanya dapat dilaksanakan dalam bidang penggarapan sawah saja, tapi juga disektor lain seperti dalam kerja sama penambangan sumur minyak. Oleh kerena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mendalam perihal sistem bagi hasil dalam penambangan sumur minyak didesa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora serta solidaritas yang ditimbulkan akibat penggunaan sistem tersebut.

RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana mekanisme pelaksanaan sistem bagi hasil oleh para kelompok penambang sumur minyak yang ada di desa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora?
  • Apa saja dampak dari penggunaan sistem bagi hasil bagi kelompok penambang sumur minyak?
  • Bagaimana solidaritas yang tercipta di dalam kelompok penambang sumur minyak dengan penggunaan sistem bagi hasil?

TUJUAN

  • Untuk mengetahui apa definisi sistem bagi hasil dalam kerja sama penambangan sumur minyak yang ada di desa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora
  • Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan sistem bagi hasil oleh para kelompok penambang sumur minyak yang ada di desa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora
  • Untuk mengetahui apa saja dampak dari penggunaan sistem bagi sistem bagi kelompok penambang sumur minyak di desa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora
  • Untuk mengetahui bagaimana solidaritas yang tercipta di dalam kelompok penambang sumur minyak

MANFAAT

Manfaat dilakukannya penelitian ini dapat dilihat dari dua segi yakni manfaat secara teoritis dan praktis

Manfaat teoritis

  • sebagai pengembangan ilmu. Dengan adanya penelitian sistem bagi hasil oleh kelompok penambang sumur minyak di desa Ledok , kecamatan Sambong kabupaten Blora akan berguna bagi pemahaman tehadap ilmu sosiologi-antropologi terutama solidaritas dalam suatu kelompok masyarakat.
  • bagi peneliti, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan perihal sistem bagi hasil oleh para masyarakat desa di sektor selain pertanian yakni penambangan sumur minyak dan manfaat dilaksanakan sistem bagi hasil tersebut.

Manfaat praktis

  • bagi kelompok penamabang sumur minyak di desa Ledok, kecamatan Sambong kabupaten Blora, dengan adanya penelitian ini diharapkan mereka lebih memanfaatkan sistem bagi hasil tidak hanya sebagai sebuah mekanisme untuk memperoleh keuntungan meteri saja , tetapi juga untuk meningkatakan solidaritas yang ada di dalam kelompok mereka.
  • bagi masyarakat luas, penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka tentang manfaat sistem bagi hasil selain dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi sosial yakni solidaritas antara pihak yang melaksanakan sistem bagi hasil tersebut

TINJAUAN PUSTAKA

             Penelitian mengenai sistem bagi hasil memang bukanlah pertama kali dilakukan. Penelitian-penelitian sebelumnya sudah banyak membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sistem pembagian hasil. Hal yang dapat diangkat dari sistem bagi hasil ini misalnya saja hal yang  melatarbelakangi diadakannya kesepakatan bagi hasil atau faktor pendukung, faktor penghambat serta dampak atau akibat yang ditimbulkan dengan adanya sistem bagi hasil tersebut, seperti yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2008) yang melihat bahwa adanya sistem bagi hasil tidak hanya sebagai upaya untuk  meningkatkan perekonomian masyarakat saja  tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan solidaritas dalam masyarakat, baik yang melakukan sistem tersebut ataupun masyarakat sekitar yang ada di tempat dilakukannya sistem bagi hasil.

            Penelitian sebelumnya mengambil masyarakat petani  yang ada di desa Jagung, kecamatan Kesasi, kabupaten Pekalongan sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian ini, sistem bagi hasil di artikan sebagai perjanjian yang dilakukan oleh dua belah pihak yang tidak ada batasan waktu sehingga diperlukan kesepakatan diantara dua belah pihak , yakni antara pemilik sawah dan penggarap. Apabila dari salah satu pihak ada yang mebatalkan perjanjian yang telah disepakati maka secara otomatis perjanjian hasil tidak dapat dilakukan. Sistem bagi hasil maro telah membawa peningkatan dari segi ekonomi, yang terbukti dengan semakin banyak masyarakatnya yang membangun rumah permanen dan jumlah pengguran berkurang. Namun di samping meningkatkan perekonomian masyarakat, pelaksanaan sistem bagi hasil sacara tidak langsung juga meningkatkan solidaritas masyarakat, misalnya dengan kegiatan kerja bakti, sambatan, sedekah bumi dan disertai dengan sikap saling gotong royong, menghargai satu sama lain serta  hubungan keluarga juga sangat menonjol.

           Jika dalam penelitian sebelumnya yang menjadi subyek penelitian adalah masyarakat petani dengan  solidaritasnya yang menjadi hasil dari pelaksanaan system bagi hasil, maka penelitian yang akan dilakukan ini adalah penelitian yang akan menggali informasi mengenai sistem bagi hasil di sektor lain, yakni sektor penambangan sumur minyak dengan lebih mengerucutkan pada solidaritas yang terjalin dalam kelompok penambang itu sendiri karena sistem bagi hasil yang dilakukan di sektor pertanian mungkin akan berbeda dengan sistem bagi hasil yang dilakukan di sektor penambangan.

LANDASAN TEORI

Solidaritas Menurut Emile Durkheim

          Menurut Emile Durkheim ( Doyle, 1986: 181) solidaritas menunjuk kepada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan kontraktual yang dibuat atas persetujuan  rasional, karena hubungan-hubungan serupa itu mengandalkan sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak. Durkheim membagi solidaritas menjadi dua, yaitu solidaritas mekanik dan organik. Bagi Durkheim ( Doyle, 1986: 182) indikator yang paling jelas untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup  dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat menekan itu ( repressive). Hukum–hukum ini mendefinisikan setiap perilaku sebagai suatu yang jahat, yang mengancam atau melanggar kesadaran kolektif yang kuat. Ciri khas yang penting dari solidaritas mekanik adalah bahwa solidaritas itu berdasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan , sentiment dan sebagainya.

         Berlawanan dengan itu, solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas organik didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari spesialisasi dalam pembagian pekerjaan , yang memungkinkan dan juga memicu bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Durkheim ( Doyle, 1986: 182) mempertahankan bahwa kuatnya solidaritas organik itu ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat memulihkan ( restitutive) daripada yang bersifat represif.

        Jika teori solidaritas milik Emile Durkheim di kaitkan dengan penelitian ini, maka analisisnya adalah bahwa dengan adanya sistem pembagian hasil  yang dilakukan antara ketua kelompok penambang dengan anggota atau pekerjanya akan menimbulkan saling ketergantungan antara kedua belah pihak terebut. Ketua kelompok tambang sumur minyak tentunya membutuhkan banyak tenaga atau pekerja untuk melakukan kegiatan penambangan meski dia memiliki modal material, sedangkan dalam hal ini anggota atau pekerjanya memiliki modal tenaga yang dapat dipertukarkan dengan upah kerja ( uang). Bagi hasil dari kegiatan penambangan antara ketua kelompok dan anggotanya nantinya akan menumbuhkan solidaritas yang sifatnya organik maupun mekanik. Solidaritas organik dikarenakan dalam kegiatan penambangan sudah terdapat spesialisasi dalam pembagian kerja yang membedakan tugas tiap inidividu yang ada dalam kelompok penambang tersebut, seperti yang telah dikemukakan oleh Durkheim bahwa solidaritas organik bersumber pada saling ketergantungan yang tinggi sebagai hasil dari spesialisasi dalam pembagian kerja. Di sisi lain solidariatas mekanik yang nampak dalam hal ini adalah sentiment para individu sebagai satu kelompok yang memiliki kepentingan atau tujuan yang sama yakni mencoba meningkatkan perekonomian mereka di sektor selain pertanian yakni melalui penambangan sumur minyak yang ada di daerah asal mereka.

KERANGKA BERFIKIR 

Kerangka berfikir di atas deskripsinya adalah sebagai berikut:

          Perjanjian bagi hasil dilakukan oleh dua belah pihak, yakni antara ketua kelompok penambang dengan anggota kelompoknya. Dalam hal ini yang menjadi ketua kelompok pada umumnya adalah seseorang yang memiliki modal berupa uang daripada tenaga  sedangkan yang menjadi anggota adalah mereka yang memiliki lebih banyak modal tenaga dibanding dengan modal berupa uang. Jadi apabila penggalian sumur minyak berhasil dan penjualan dari minyak bumi mentah tersebut menghasilakan uang, maka pembagian uang dari penjualan minyak tersebut harus sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak sebelumya. Dari sistem bagi hasil yang dilakukan akan berdampak pada tingkat solidaritas kelompok tersebut, baik itu solidaritas yang sifatnya organik maupun mekanik.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2011 in Tugas Kuliah

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: