RSS

Ketika Perempuan Menjatuhkan Pilihan

27 Nov

Ini adalah cerita nyata yang diambil dari via internet dan ditulis oleh Dian yustisia. Dalam tulisannya Dian menceritakan kisah teman perempuannya. Kebetulan  temannya  tersebut  memilki seorang adik yang juga perempuan. Kakak beradik tersebut dulunya sama-sama  mengenyam pendidikan di sekolah yang ternama. Hanya saja, setelah menyelesaikan  sekolahnya sang kakak memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus putri pertamnya, sedangkan sang adik memilih untuk melanjutkan sekolahnya sampai akhirnya sekarang dia memperoleh pekerjaan yang mentereng dengan gaji dollar. Teman perempuan Dian merasa terpojokkan oleh orang tua dan adiknya karena keputusan yang dia ambil untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Yang paling ramai menyepelekannya tentulah sang adik karena merasa pekerjaanya lebih memliki pamor dibanding pekerjaan sang kakak yang hanya seorang ibu rumah tangga.Hal ini pun merembet pada suami sang kakak yang ikut mengecilkan kedudukan sang istri yang tiap hari bekerja keras untuk keluarga. Lagi-lagi akan terdengar kalimat “sayang ilmu kamu nggak terpakai” atau akan muncul keluhan-keluhan seakan sang istri tidak membantu suami secara material tentunya.


Memilih menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga adalah sebuah pertanyaan yang biasanya ada dibenak setiap perempuan dan terkadang dilontarkan oleh orang-orang terdekat setelah seorang perempuan memutuskan untuk menikah dan memiliki keluarga. Pertanyaan tersebut mungkin akan dapat dijawab dengan mudah ketika belum hadir sang buah hati di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya. Akan tetapi, setelah hadir sang buah hati maka prioritas seorang perempuan tidak akan sama lagi. Akan muncul dua opsi yakni memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dengan prioritas mengurus anak dan suami atau memilih menjadi ibu rumah tangga dan sekaligus wanita karir untuk tetap mempertahankan prestasi kerja yang dimiliki sebelum menikah. Tidak seperti laki-laki yang dimudahkan dalam mengambil keputusan, perempuan lebih dipusingkan dengan berbagai macam pertimbangan.

 Meski telah bergulir misi kesetaraaan gender yang membuka peluang bagi perempuan untuk berkarya di bidang publik seperti menajdi wanita karir, namun tetap saja masih banyak dari perempuan di Indonesia yang memilih berdomisili di sektor domestik dengan menjadi ibu rumah tangga, seperti halnya kasus diatas. Bagaimana fenomena tersebut dilihat dari perspektif sosiolagi gender, berikut adalah analisis saya.

Pada saat ini dalam kehidupan bermasyarakat, telah bergulir isu gender yang mengangkat misi kesetaraan gender, sehingga istilah tersebut sudah tidak begitu asing ditelinga kita. Dengan mengakat misi kesetaraan gender, muncul harapan yang tinggi bagi perempuan untuk dapat duduk sederajat dengan laki-laki dalam berbagi hal. Pada masa sekarang misalnya, perempuan dituntut untuk mampu bersaing dengan laki-laki di bidang pendidikan, politik, sosial, ekonomi, dll. Adanya persepsi bahwa kesetaran gender adalah saat perempuan harus mampu bersaing dengan laki-laki di bidang publik membuat peran wanita di sektor domestik seakan terlupakan dan dianggap tidak mencerminkan adanya kesetaraan gender yang tengah marak diperbicangkan.

Memang adanya berbagai gerakan yang menuntut adanya kesetaraan hak bagi perempuan dan laki-laki telah mamberikan dampak yang sangat besar bagi dunia perempuan. Jika dulu dunia perempuan hanya sebatas dapur dan tempat tidur, maka kini perempuan diberikan hak yang luas untuk dapat menikmati hak yang dulunya hanya dimiliki laki-laki seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, dan berpolitik. Dampak dari hal itu tentu dapat kita lihat sekarang dengan jumlah perempuan yang kini telah sukses bekerja di sektor publik, sebutlah Sri Mulyanni yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan negara, pada saat itu dia juga merupakan staf pengajar (dosen) di sebuah universitas dan juga seorang ibu rumah tangga.  Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa seorang wanita bahkan bisa memainkan multiperan dalam satu kurun waktu. Tentunya pencapaian sejumlah perempuan Indonesia di sektor publik haruslah kita beri apresiasi yang tinggi. Walupaun di sisi lain adanya misi kesetaraan gender yang menuntut perempuan untuk bekerja di segala bidang  justru menimbulkan konflik tersediri bagi perempuan. Konflik yang dimaksud adalah konflik peran ganda, khususnya pada wanita yang telah bekerja sebelum dia menikah. Di sini perempuan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang menimbulkan pertentangan yakni menjalankan dua peran sekligus sebagai ibu rumah tangga dan juga wanita karir. Hal ini tentu menjadi dilema bagi seorang perempuan untuk memposisikan perannya, sebagai ibu rumah tangga atau sebagai wanita karir, ataupun sekaligus keduanya.

Jika dilihat dari berbagai perspektif gender, maka yang pertama adalah bahwa konstruk sosial akan memberikan pengaruh pada persepsi seseorang. Masyarakat Indonesia secara umum masih sangat kental dengan norma, tradisi dan adat. Di sadari atau tidak, adat yang berlaku bagi perempuan di Indonesia secara tidak langsung telah mengarahkan mereka untuk bergerak di bidang domestik atau rumah tangga sehingga lambat laun tanpa disadari oleh perempuan hal tesebut telah terinternalisasi dalam dirinya. Mereka secara tidak sadar menganggap bahwa peran ini adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan. Masyarakat yang masih terikat dengan norma dan tradisi memiliki kecenderungan untuk menggunakan norma dan tradisi yang mereka miliki dalam memenuhi kebutuhan atau  tuntutan sosial mereka  agar merasa diterima dalam masyarakat. Mungkin, faktor ini juga yang menjadi penyebab gerakan feminisme yang umumnya menuntut adanya kebebasan menurut sebagian masyarakat dianggap kurang sesuai jika diterapkan di Indonesia.

Memilih menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga merupakan hak bagi perempuan. Tentunya dalam menjatuhkan pilihan, seorang perempuan memilki berbagai alasan. Bagi mereka yang memilih menjadi ibu rumah tangga selain faktor tradisi yang tanpa mereka sadari telah mengarahkan mereka kepada sektor rumah tangga, faktor lainnya adalah kecenderungan menilai laki-laki sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Dengan anggapan seperti demikian, maka mereka merasa bahwa bekerja dan menghasilkan uang bukanlah merupakan tanggung jawab, sehingga tidak ada beban mental pada diri mereka ketika tidak melakukan hal tersebut. Agar tidak terjadi konflik, maka dibutuhkan kesepakatan bersama dalam pembagian tugas antara istri dan suami terkait peran atau tugas mereka dalam keluarga. Faktor berikutnya adalah kecenderungan maremehkan wanita dalam melakukan pekerjaan di sektor publik. Akibatnya perempuan memilih menjadi sebagai ibu rumah tangga karena merasa lebih bisa maksimal dalam pekerjaan itu. Hal yang lain adalah bahwa sosok perempuan diidentikan memiliki tipe caring dan service. Tipe caring lebih dilihat sebagai kegiatan penjagaan yang kemudian disektor domestik diartikan sebagai pola pengasuhan anak, sementara service bisa diartikan  dengan menjadi istri yang melayani suami dengan baik. Kedua peran ini kemudian dilaksanakan dengan menjadi ibu rumah tangga. Adanya stereotipe bagi perempuan yang bekerja di sektor publik  juga dapat mempengaruhi keputusan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga. Stereotipe ini lebih melanda perempuan yang ada di pedesaan yang masih kental dengan tradisi, seperti misalnya wanita yang pulang malam dari tempat kerjanya pastinya akan mendapat pandangan negatif dari masyarakat sekitar padahal dia pulang malam karena mendapat shif malam dari tempat kerjanya.

Di lain pihak, pilihan menjadi wanita karir sering dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mengaktualisasikan diri selain juga merasa bahwa sudah semestinya perempuan memiliki hak yang sama dengan pria. Hal ini memang menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, banyak aktivis perempuan menyerukan tentang kesetaraan gender pada pria dan wanita, di lain pihak, secara tidak langsung banyak perempuan yang belum menyadari konsekuensi dari hal tersebut. Dilema tentang perempuan ini pada dasarnya hampir sama dengan dilema antara peran kepala keluarga dan pencari nafkah. Ketika seorang wanita dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga, secara tidak langsung laki laki-laki dituntut untuk menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah.

Jika di lihat dari sisi androgini, dimana seorang perempuan dapat menggunakan sisi feminin dan juga maskulin yang dia miliki pada saat yang bersamaan, maka seharusnya fenomena antara ibu rumah tangga dan wanita karir bukanlah hal yang harus dipertentangkan sebagai dua hal ynag berbeda, melainkan dua hal yang dapat disatukan atau diintegrasikan. Selama ini antara peran sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir seolah menjadi sebuah hal yang dipertentangkan dan harus dipilih oleh seorang perempuan. Padahal jika menggunakan perspektif androgini seseorang akan jauh lebih bisa fleksibel dalam melakukan perannya, karena ada banyak fenomena dimana seorang wanita karir tetap sukses dengan profesinya dan harmonis di keluarganya dengan tetap berperan sebagai ibu rumah tangga. Pada dasarnya, yang paling penting adalah bagaimana seseorang memilih perannya dengan kesadaran dan pertimbangan yang tidak dipaksakan. Dengan begitu, apapun pilihan itu akan bisa dipertanggungjawabkan.

Masyarakat sering menganggap bahwa gender adalah sesuatu yang tidak dapat diubah, padahal gender pada dasarnya adalah hasil konsepsi antara masyarakat setempat dengan budaya yang melatarbelakanginya terhadap peran seseorang. Menjadi seorang ibu adalah kodrat bagi wanita yang melahirkan, tetapi menjadi ibu yang bekerja di rumah (biasa disebut ibu rumah tangga) adalah sebuah pilihan.

Dari analisis di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan. Yang pertama yaitu bahwa pilihan menjadi ibu rumah tangga belum tentu mengacu pada ketidakadilan gender. Terdapat banyak wanita dengan pengetahuan dan latar pendidikan yang tinggi dan setara dengan pria tetap memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pilihan ini, mulai dari rasa tanggung jawab pribadi, norma sosial, atau karena adanya pembagian peran antara istri dan suami. Kedua, pilihan menjadi ibu rumah tangga mungkin saja menjadi salah satu bentuk ketidakadilan gender ketika ada keterpaksaan dalam memilih atau kurangnya pengetahuan sehingga membatasi pola pikir seorang perempuan tentang pengertian wanita karier. Ketiga, peran menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir seakan memang selalu dipertentangkan, padahal pada kenyataannya peran ini mungkin bisa dilakukan secara bersamaan dengan keseimbangan antara keduanya. Keempat yaitu bahwa harus ada pemahaman pada masyarakat antar konsep gender dan kodrat, jangan sampai dicampuradukkan.

Saran

Menurut saya pekerjaan sebagai ibu rumah tangga ataupun wanita karir adalah pekerjaan yang sama-sama berarti bagi perempuan, sehingga tidak perlu saling di cari kelemahan antara satu dan yang lain. Kedua pekerjaan tersebut juga seharusnya tidak perlu dipertentangkan sehingga tidak akan menjadi sebuah dilema bagi perempuan itu sendiri, karena menurut saya menjadi ibu rumah tangga bukan selalu erat dengan ketidaksetaraan gender. Hal yang terpenting adalah ketika perempuan mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun sehingga dan dia mampu menjalankan keputusannya dengan penuh tanggung jawab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2011 in Sosiologi Gender

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: