RSS

TRADISI SEDEKAH BUMI “MANGANAN” DARI PERSPEKTIF FUNGSIONALISME STRUKTURAL

27 Nov

Konsep Paradigma Fungsionalisme Struktural

             Paradigma fungsionalisme struktural merupakan salah satu paradigma yang di pakai untuk mengkaji berbagai  masalah sosial dari kacamata sosiologi. Menurut paradigma  ini, masyarakat dianalogikan sebagai  sebuah sistem yang  terdiri dari berbagai bagian yang saling berhubungan dan tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu jika ada  perubahan dalam bagian dari sistem tersebut maka akan menyebabkan perubahan yang lain. Semua bagian dalam sebuah sistem  akan bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk mencapai sebuah keseimbangan atau untuk meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem itu sendiri. Jadi,  jika salah satu bagian dalam sistem tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya maka akan mengganggu fungsi dari bagian yang lain yang berimbas pada tingkat keseimbangan sistem.

             Paradigma ini secara umum memandang bahwa masyarakat sebagai equilibrium sosial atau penyeimbang dari semua institusi yang ada didalamnya. Masyarakat akan menghasilkan pola-pola kelakuan yang terdiri dari norma-norma sosial yang mereka sepakati, sehingga akan tercipta keteraturan atau keseimbangan di dalam sistem sosial.



Agama merupakan salah satu bentuk tingkah laku masyarakat yang dilembagakan.  Menurut paradigma fungsinalisme structural agama merupakan suatu lembaga sosial yang berfungsi untuk menjawab kebutuhan mendasar dari masyarakat yang terkadang tidak dapat diperoleh melalui pemahaman sacara duniawi. Agama juga dianggap sebagai penyebab sosial ( social causation) yang dominan dalam terbentuknya lapisan sosial dalam tubuh masyarakat. Dalam hal ini masyarakat memiliki perasaan yang sanggup mengumpulkan mereka dalam suatu wadah, yang kemudian oleh Durkheim agama dilihat  sarana atau alat pemerkuat solidaritas sosial yang dapat  terlihat melalui kegiatan keagamaan dan pengabdian terhadap Tuhan.

           Paradigma fungsionalisme juga melihat agama sebagai suatu bentuk kebudayaan yang istimewa yang mampu mersapi setiap tingkah laku laku penganutnya. Malinowski dalam teori fungsionalismenya mengasumsikan adanya hubungan agama dan fungsinya yang  diaplikasikan melalui ritual. Secara garis besar, fungsi dasar agama diarahkan kepada sesuatu yang supernatural atau, dalam bahasa Rudolf Otto, “Powerful Other.”  Mereka yang terlibat dalam sebuah ritual bisa melihat dan merasakan bahwa agama merupakan sarana untuk meningkatkan hubungan spiritualnya dengan Tuhan. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat, dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama, yang kemudian dapat memperkuat fungsi solidaritas.Tradisi sedekah bumi atau manganan merupakan salah satu contoh konkrit dari aplikasi fungsi solidaritas sebuah ritual (agama).

            Tradisi Sedekah Bumi (Manganan)

            Di daerah asal saya, yakni desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora setiap tahunnya menyelenggarakan tradisi sedekah bumi atau manganan. Memang tidak diketahui jelas sejarah awal mula adanya tradisi tersebut, namun bagi warga di desa saya tradisi tersebut sudah menjadi tradisi yang seakan tidak pernah ditinggalkan dari generasi ke generasi sehingga sampai sekarang pun masih dijalankan. Tradisi sedekah bumi atau manganan di desa saya dilakukan setahun sekali pasca panen raya. Meski dilaksanakan pasca panen raya, namun bukan berarti yang mengikuti tradisi ini hanya mereka saja yang berprofesi sebagai petani, melainkan semua masyarakat desa dengan background pekerjaan apa saja. Biasanya dalam tradisi ini, setiap satu keluarga membuat aneka jajanan tradisional yang bahan pokoknya dari beras, misal gemblong atau jadah, dan mendut. Untuk makanan beratnya dapat berupa nasi urap, dan makanan olahan dari mie, tahu, tempe dan telur serta tidak lupa membawa buah-buahan seperti pisang.

             Pelaksanaan tradisi ini dilakukan pada siang hari. Para warga  datang dengan membawa tikar sebgai alas serta membawa bakul yang berisi makanan-makanan yang telah dpersiapkan sebelumnya. Dalam pelaksanaanya semua masyarakat desa berkumpul menjadi satu di sebuah makam yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya penyelenggaran tradisi sedekah bumi dengan menggelar tikar terlebih dahulu yang mereka bawa dan meletakkan bakul berisi makanan yang telah mereka persiapkan diatasnya. Umumnya mereka duduk secara mengelompok. Sebelum acara dimulai masing-masing  dari mereka memberikan semacam sumbangan dalam bentuk uang yang nominalnya tidak ditentukan oleh panitia penyelenggara. Sumbangan itu nantinya digunakan untuk membantu pembangunan desa. Setelah itu, baru pembaca doa melafalkan doa-doa dalam dua bahasa yakni bahasa jawa dan arab yang merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME dengan rejeki yang telah diberikan baik dari hasil panen maupun yang lainnya. Setelah pembacaan doa, semua masyarakat mengeluarkan makanan yang mereka bawa kemudian memakan makananan itu secara bersama-sama serta tidak lupa saling berbagi makanan antara satu dan yang lain. Dalam tradisi tersebut semua warga desa hampir semuanya melebur menjadi satu tanpa melihat perbedaan lapisan sosialnya. Biasanya setelah pelaksanan sedekah bumi, di desa saya diselenggarakan pesta panen raya dengan ditampilkannya kesenian wayang kulit. Karena hal itu bukan menjadi keharusan maka tidak selalu diadakan mengingat untuk itu diperlukan biaya yang cukup tinggi.

            Analisa

            Tradisi sedekah bumi atau manganan merupakan tradisi yang setiap tahunnya selalu dilakukan oleh masyarakat di desa saya. Tradisi ini bertujuan agar kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Jika dilihat tradisi ini agak kurang rasioanal dengan memakai makam sebagai tempat untuk melakukan syukuran atas rajeki yang diperoleh melalui hasil panen atau usaha yang lainnya. Namun, jika kita menggunakan pardigma fungsionalisme structural untuk menganalisisnya maka kita akan menyadari bahwa setiap hal yang sepertinya kurang masuk akal pun ternyata memiliki fungsi. Demikian pula mengapa tradisi sedekah bumi di desa saya dilakukan di sebuah makam. Hal tersebut mengandung fungsi pengingat untuk  semua warga desa  agar ketika  mendapatkan nikmat  atau berkah dari Tuhan mereka tidak lantas menjadi sombong atau bhakan lupa bersyukur kepada Tuhan. mengingat bahwa semua itu tidaklah abadi karena nantinya kita akan meninggal juga  seperti mereka yang telah mendahului kita menghadap Tuhan.

           Seperti yang telah dikemukakan oleh Durkheim bahwa adanya agama atau praktek ritual memiliki fungsi integrasi, peningkatan solidaritas bahkan membentuk masyarakat. Jika dikaitkan dengan tradisi sedekah bumi maka, melalui tradisi tahunan ini telah mampu mengundang atau mengumpulkan satu masyarakat desa menjadi satu tanpa melihat status sosialnya dan dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti tradisi ini maka solidaritas diantara mereka sebagai kesatuan kelompok atau komunitas semakin terjaga. Keseimbangan sosial pun juga dapat tercipta setidaknya dari situasi rukun yang terjalin oleh partisipan tradisi tersebut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2011 in Tugas Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: