RSS

PERSEPSI PARA ORANG TUA TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH (STUDI KASUS DI DESA LEDOK KECAMATAN SAMBONG KABUPATEN BLORA)

28 Nov

LATAR BELAKANG  MASALAH

Anak merupakan harta bagi setiap orang tua di dunia. Hal itu membuat setiap orang tua akan berusaha memberikan hal yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan. Pendidikan paling dini dimulai dari lingkungan keluarga dan hal tersebut dapat dikatakan sebagai pendidikan awal bagi seorang anak sebelum mereka mendapatkan pendidikan di luar lingkungan keluarga seperti pendidikan formal.

Pemberian pendidikan sejak dini yang baik  pada anak akan memberi pengaruh pada proses perekembangan anak. Dalam Dictionary of Psychologi (1972) dan The Penguin Dictionary of Psychologi (1988) perkembangan diartikan sebagai tahapan-tahapan perubahan yang progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organisme-organisme tersebut. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa perkembangan merupakan tahapan dari perubahan aspek jasmani dan rohani manusia kearah yang lebih maju.

Secara umum ada tiga tahahan perkembangan yang dilalui oleh individu sampai dia menjadi dirinya sendiri ( person) yaitu tahapan proses konsepsi ( pembuahan sel ovum ibu oleh sel sperma ayah), tahapan proses kelahiran ( saat keluarnya bayi dari rahim ibu ke dunia bebas), dan tahapan proses perkembangan bayi tersebut menjadi seorang pribadi yang khas (Syah, 1997:48).


Dalam mempelajari perkembangan manusia ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya sebagai berikut: proses pematangan (khususnya pematangan fungsi kognitif), proses belajar, dan pembawaan atau bakat (Syah, 1997:43). Sejak anak lahir sampai anak berusia  tiga tahun mereka memiliki kepekaan dalam hal menyerap berbagai hal yang terjadi disekelilingnya atau dilingkungnnya. Usia satu setengah tahun sampai kira-kira tiga tahun anak memiliki daya sensoris yang berfungsi untuk menyerap bahasa, sehingga merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berbahasa dan berbicara (Theo & Martin, 2004).Terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa pada saat usia dini, anak memiliki tingkat perkembangan kognitif. Penelitian tersebut di antaranya adalah penelitian di bidang neurologi atau cabang dari ilmu kedokteran yang menangani kelainan pada sistem syaraf (Wikipedia bahasa Indonesia , ensiklopedia bebas). Berdasarkan hasil studi dibidang tersebut diketahui bahwa pada saat usia empat tahun perkembangan kognitif anak sudah mencapai 50%, usia delapan tahun mencapai 80% , dan saat usia delapan belas tahun perkembangan kognitif anak genap menjadi 100% ( Osborn, White, dan Bloom). Perkembangan kognitif dapat diartikan sebagai perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/ kecerdasan otak anak ( Syah, 1997: 60). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat pula diketahui bahwa setiap anak mengalami masa emas dalam hidupnya, khususnya saat mereka masih berada pada usia dini. Oleh kerena hal itu maka masa emas perkembangan anak tersebut harus dimanfaatkan dengan baik dan tidak boleh disia-siakan.

Setelah diketahui bahwa anak memiliki masa perkembangan emas di usia dini, hal tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa pendidikan yang penting bagi seorang anak tidaklah dimulai ketika seorang mulai masuk kedalam sekolah formal seperti SD ( Sekolah Dasar), melainkan harus dimulai sedini mungkin agar perkembangan emas dari anak tidak sia-sia dan tidak terlambat. Dengan kata lain pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk anak sangat penting diberikan sebelum seorang anak menempuh pendidikan yang tingkatnya lebih tinggi seperti sekolah dasar (SD).

Pendidikan anak usia dini ( PAUD) merupakan upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Apriana, 2009). Pendidikan anak usia dini di Indonesia belum begitu mendapat perhatian dari masyarakat. Data Depdiknas tahun 2002 misalnya, menunjukkan bahwa baru 28% dari 26,1 juta  anak usia 0-6 tahun yang mendapatkan pendidikan anak usia dini. Dari 26% anak Indonesia memperoleh pendidikan dengan masuk ke sekolah dasar ( SD) pada usia lebih awal, 2,5 juta anak mendapat pendidikan melalui Bina Keluarga Balita ( BKB), 2,1 juta anak bersekolah di TK , dan sekitar 100.000 anak bersekolah di play group atau kelompok bermain (Enung, 2006). Dari data tersebut terlihat bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) belum bnayak mendapat perhatian, padahal pada usia dini anak memiliki perkembangan kognitif yang hebat.

Dalam hal pemberian pendidikan usia dini pada anak, dibutuhkan peran serta dari para orang tua. Dalam hal ini tinggi rendahnya tingkat pengetahuan orang tua tentang pendidikan akan berpengaruh pada pemberian pendidikan terhadap anak. Jika pendidikan orang tua tinggi maka pengetahuan akan pentingnya pemberian pendidikan pada anak juga tinggi, termasuk pemberian pendidikan pada anak usia dini mengingat pada usia tersebut anak mengalami masa emas perekembangan yang bagus sehingga tidak boleh terlewatkan dengan sia-sia. Jika pengetahuan orang tua tentang  pendidikan rendah maka pemberian pendidikan  kepada anaknya juga akan  rendah, bahkan mereka tidak tahu akan adanya masa emas yang dialami oleh anaknya sehingga mereka melewatkannya begitu saja tanpa memberikan stimulus yang akan mampu mengembangkan masa emas yang dimiliki anaknya seperti perkembangan kognitif anak.

Selain pengetahuan akan pendidikan yang dimiliki oleh orang tua, hal yang berpengaruh pada pemberian pendidikan pada anak usia dini adalah faktor ekonomi. Dengan memiliki pengetahuan akan pendidikan saja orang tua belum tentu bisa memberikan pendidikan pada anaknya, khususnya pendidikan formal. Hal itu kerena dalam memberikan pendidikan juga dibutuhkan biaya. Oleh karena itu selain memiliki pengetahuan akan pendidikan yang tinggi orang tua juga harus mempunyai biaya, karena untuk mendapatkan atau memperoleh pendidikan seseorang juga harus mengeluarkan biaya.

Pemberian pendidikan pada anak usia dini seharusnya diberikan kepada semua anak tanpa terkecuali, karena akan sangat membantu setiap anak dalam mengoptimalkan masa emas perkembangan mereka. Hadirnya lembaga pendidikan anak usia dini ( PAUD) yang semakin banyak harus dimanfaatkan oleh kalangan orang tua, karena dengan adanya pemberian pendidikan pada anak usia dini akan membantu anak sebelum mereka menempuh pendidikan yang tingkatnya lebih tinggi seperti sekolah dasar (SD). Adanya informasi atau sosialisasi tentang manfaat pendidikan anak pada usia dini sangat penting agar para orang tua dapat memanfaatkan keberadaan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk membantu proses perkembangan anak.

Jumlah lembaga pendidikan anak usia dini dari masa ke masa menunjukkan adanya kemajuan. Keberadaannya pun kini tidak hanya di pusat-pusat kota, melainkan telah masuk sampai ke desa. Kesadaran dari para orang tua akan perlunya memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini juga telah tumbuh, dengan memasukkan anak mereka ke dalam lembaga pendidikan anak usia dini seperti TK dan Kelompok Bermain ( Play Group). Kondisi tersebut kini yang sedang terjadi di Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora. Setelah berdiri sebuah taman kanak-kanak (TK), kini di desa tersebut didirikan sebuah lembaga pendidikan anak usia dini lain seperti kelompok bermain atau play group. Kelompok bermain atau play group tersebut merupakan yang pertama di Desa Ledok. Tidak seperti keberadaan taman kanak-kanak yang mendapat antusias dari para orang tua, keberadaan kelompok bermain atau play group ini secara umum masih kurang mendapat perhatian dari para orang tua yang memiliki anak prasekolah di desa tersebut. Hal itu tercermin dari masih sedikitnya orang tua yang memasukkan anaknya ke dalam kelompok bermain atau play group, dan lebih memilih untuk memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak (TK) serta sisanya memilih memasukkan anaknya ke sekolah dasar (SD) pada usia awal.

Dalam penelitian ini peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang pendidikan anak usia dini yang didirikan di desa tersebut karena peneliti ingin mengetahui sesungguhnya bagaimana persepsi dari para orang tua dengan kehadiran lembaga pendidikan anak usia dini di desa mereka serta untuk mengetahui bagaimana perkembangan yang ditunjukkan oleh anak mereka setelah menempuh pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group) sebelum menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD).

RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

·    Bagaimana persepsi para orang tua di Desa Ledok dengan adanya lembaga pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group) ?.

·    Bagaimana perkembangan yang ditunjukkan oleh anak mereka yang mengikuti pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group) ?.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah:

·   Untuk mengetahui persepsi para orang tua di Desa Ledok dengan adanya lembaga  pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group).

·  Untuk mengetahui  perkembangan yang ditunjukkan oleh anak mereka yang mengikuti pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group).

MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan praktis.

Manfaat Teoritis

·   Bagi peneiti, penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti tentang pendidian anak usia dini yang ada di pedesaan.

·   Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengembangan ilmu. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu terhadap prodi pendidikan sosiologi antropologi, khususnya di bidang pendidikan karena penelitian ini mengambil tema tentang pendidikan anak usia dini (PAUD).

Manfaat Praktis

·   Bagi para orang tua diharapkan adanya penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pendidikan anak usia dini (PAUD).

·  Bagi mahasiswa peneiltian ini dapat dijadikan sabagai penelitian awal tentang pendidikan anak usia dini (PAUD).

·  Bagi pendidik PAUD, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk

lebih mengembangkan mutu pendidikan di institusi mereka agar dapat menunjang perkembangan anak secara signifikan.

·   Bagi masyarakat, penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi tentang perlunya pemberian pendidikan pada anak usia dini.

PENEGASAN ISTILAH

a)              Presepsi

Presepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menyampaikan pesan (Rohmad, 1982:51). Persepsi juga didefinisikan sebagai suatu proses yang di dahului penginderaan yaitu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh indera melalui alat reseptornya, stimulus kemudian diteruskan ke otak dan menjadi proses psikologis , sehingga individu menyadari apa yang dilihat, didengar dan sebagainya ( Walgito, 1989:50). Dari berbagai pengertian persepsi oleh beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses penterjemahan stimulus yang diterima oleh individu melalui alat inderanya untuk kemudian diolah menjadi sebuah sikap atau pola perilaku. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan presepsi adalah pendapat atau sudut pandang masyarakat, khususnya adalah masyarakat desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora tentang adanya pendidikan anak usia dini (PAUD) terhadap perkembangan anak prasekolah.

b)             Masyarakat

Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terkait oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama (KBBI, 2008:885). Masyarakat juga dapat diartikan sebagai sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama seperti sekolah , keluarga, dan perkumpulan lainnya (Saptono, 2006:3). Bedasarkan pengertian masyarakat yang dikemukakan tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah suatu sejulah manusia yang tinggal sebagai satu kesatuan dalam tempat yang sama dan memiliki kepentingan serta norma atau aturan sebagai kontrol sosial. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan masyarakat adalah warga desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora.

c)            Kelompok Bermain (playgroup)

Kelompok bermain adalah salah satu bentuk pendidikan anak usia dini (PAUD) pada jalur pendidikan nonformal (PAUD nonformal) yang menyelenggarakan program penididikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak-anak usia 2 tahun sampai 6 tahun (dengan prioritas anak usia 2 tahun sampai 4 tahun). Menurut Guston (2002), pengertian kelompok bermain adalah institusi /lembaga yang mengadakan program untuk mengembangkan potensi-potensi anak dan memberikan keterampilan untuk membantu diri sendiri dan keterampilan yang bersifat sosial yang diberikan selama anak menjalani kegiatan bermain.  Kelompok bermain diperuntukan bagi anak usia 2-4tahun (artikel-dunia psikologi.blogspot.com). Dari berbagai pengertian kelompok bermain yang dikemukakan oleh ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok belajar adalah institusi atau lembaga yang mengadakan program atau kegiatan pendidikan untu anak usia 2-6 tahun. Dalam penelitian ini, kelompok bermain yang dimaksud adalah institusi pendidikan taman kanak-kanak (TK) Tunas Harapan dan kelompok bermain (Playgroup) yang ada di desa Ledok.

d)           Pendidikan anak usia dini (PAUD)

Menurut UU no 22 th 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa, pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan anak usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan  pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam penelitian ini dibatasi pada pendidikan yang diberikan kepada anak usia prasekolah yakni  anak usia 2-6 tahun dengan jenis pendidikan anak usia dini seperti kelompok bermain (Playgroup) dan taman kanak-kanak (TK) yang ada di desa Ledok.

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka adalah suatu bagian yang penting dalam penelitian. Tinjauan pustaka merupakan review dari penelitian sebelumnya yang  kemudian digunakan sebagai acuan dalam penelitian selanjutnya. Hal ini penting untuk mengetahui kedudukan hasil penelitain terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, agar penulis dapat melihat bobot dari penelitain yang dia lakukan dan tidak terjebak pada pendangan yang sempit.

Berbagai hasil penelitian tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) sudah banyak dilakukan yang menunjukkan keberagaman dari berbagai sudut pandang. Penelitian terkait pendidikan anak usia dini (PAUD) pernah dilakukan oleh Apriana (2009).

Apriana (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “ Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dengan Perkembangan Kognitif Anak Usia Prasekolah di Kelurahan Tinjomoyo Kecamatan Banyumanik Semarang”, menyimpulkan bahwa anak yang memeliki IQ superior ataupun IQ diatas rata-rata  mereka mengikuti PAUD, oleh karena itu ada hubungan yang signifikan antara pendidikan anak usia dini dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah.

Satu hal yang penting dari pemberian pendidikan pada anak usia dini adalah pemahaman dari orang dewasa dalam hal ini adalah sejauhmana para orang tua mengatahui tentang pendidikan anak usia dini (PAUD), sehingga mereka dapat mengambil keputusan terkait pemberian pendidikan pada anak-anak mereka  khususnya yang tergolong anak usia prasekolah. Hal tersebutlah yang nampaknya belum terjawab oleh penelitian sebelumnya. Oleh kerena itu, penelitian ini merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan dan mengungkap pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab pada penelitian sebelumnya, khususnya untuk mengetahui bagaimana view side atau sudut pandang para orang tua tentang pendidikan anak usia dini (PAUD).

LANDASAN TEORI

a)      Persepsi

Terdapat berbagai pengertian tentang persepsi. Persepsi dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara pandang seseorang terhadap suatu objek. Persepsi seseorang akan memberi pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan. Apabila persepsi seseorang  baik atau positif terhadap suatu hal, maka pengambilan keputusan pun akan selaras dengan persepsi tersebut ataupun sebaliknya. Demikian pula dengan persepsi yang ditunjukkan oleh masyarakat desa Ledok secara umum tentang adanya pendidikan anak usia dini (PAUD) terhadap perkembangan anak prasekolah. Kotler ( 2002, p.192) menyebutkan bahwa   “ Perception is the process by which people select, orgineze,and interpret into form a meaningful picture of the world “. Jadi persepsi merupakan pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Oleh kerena itu setiap orang dalam memberi arti terhadap stimulus dapat berbeda antara satu dan yang lainnya. Persepsi berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang objek atau kejadian pada saat tertentu, oleh kerena itu maka persepsi akan terjadi kapan saja ketika stimulus menggerakkan indera. Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk poses berpikir. Walgito (1981:22) menyimpulkan bahwa “ persepsi adalah kesan ynag pertama untuk mencapai suatu keberhasilan.

Persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian stimulus, dan penterjemahan atau penafisiran stimulus, yang telah diorganisasi dengan cara yang mampu mempengaruhi perilaku dan sikap. Menurut Kotler dan Amstrong (1995, p. 186), seseorang dapat memiliki persepsi yang berbeda kepada objek yang sama karena  ada 3 proses yaitu : Distortion selective, Disturbance selective, dan Memory selective. Distortion selective adalah proses dimana seseorang memperlihatkan sejumlah stimuli setiap hari, namun seseorang tidak dapat menimbulkan stimuli. Disturbance selective adalah kecenderungan seseorang untuk menerima informasi dalam pengertiannya, sedangkan memory selective adalah proses dimana  seseorang akan cenderung menyimpan informasi yang mendukung sikap dan kepercayaan mereka.

Jika persepsi seseorang berbeda, maka pola perilaku dan sikap yang dihasilkan akan berbeda. Hal tersebut karena seseorang mengalami proses penerimaan, pengorganisasian sampai  pengiterpretasian atau penterjemahan  objek/ stimulus yang berbeda sehingga menghasilkan pandangan yang berbeda pula. Dalam penelitian ini hal tersebut tercermin dari adanya masyarakat yang memberikan pendidikan anak usia dini kepada anaknya dan ada pula masyarakat yang tidak memberikan pendidikan pada anak usia dini. Adanya pengambilan keputusan yang berbeda tersebut dikarenakan dalam menginterpretasikan atau menterjemahkan pendidikan anak usia dini untuk anak prasekolah terdapat  perbedaan.

b)      Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Terbentunya pada individu dipengaruhi oleh banyak hal, seperti yang dikemukakan David dan Ricard Cruthfield dalam Jalaludin Rahmat (2005:52) membagi faktpr-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua yaitu faktor fungsional dan faktor struktural.

1)      Faktor Fungsional

Faktor fungsional adalah faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal yaitu karakteristik orang yang memberikan respon pada stimulus tersebut. Oleh kerena itu menunjukkan bahwa berat ringannya penilaian terhadap objek tergantung pada rangkaian objek yang dinilainya, yang dipengaruhi oleh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya.

2)      Faktor struktural

Faktor struktural adalah faktor yang semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek syaraf yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu. Persepsi tersebut sesuai dengan yang dirumuskan pada teori gesalt yaitu bila kita ingin mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Hal ini berarti apabila ingin memahami suatu peristiwa , kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah melainkan kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan.

3)      Syarat terjadinya persepsi

Walgito (1989:70) mengemukakan beberapa syarat sebelum individu mengadakan peresepsi yang meliputi adanya objek (sasaran ynag diamati), objek atau sasaran yan diamati akan menimbulkan stimulus atau rangsangan apabila mengenai alat indera atau reseptor, dan adanya indera yang cukup baik. Berikut adalah penjelasan dari syarat- syarat tersebut.

a)      Adanya objek yang dipersepsi

Objek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau rangsangan yang mengenai alat indera. Objek dalam hal ini adalah persepsi para orang tua tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) terhadap perekembangan anak prasekolah.

b)      Adanya indera atau resepsi

Alat indera yang dimaksud adalah alat indera untuk menerima stimulus yang kemudian diterima dan diteruskan oleh syaraf sensoris yang selanjutnya akan disampaikan ke susunan syaraf pusat sebagai pusat kesadaran. Oleh kerena itu para orang tua diharapkan memiliki panca indera yang cukup baik sehingga stimulus yang akan diterima akan diteruskan kepada susunan syaraf otak dan berujung pada persepi yang berkualitas pada objek.

c)      Adanya perhatian

Perhatian adalah langkah awal atau kita sebut sebagai persiapan untuk mengadakan persepsi. Perhatian merupakan penyeleksian terhadap stimulus, oleh karena itu apa yang diperhatikan akan betul-betul disadari oleh individu dan dimengerti oleh individu yang bersangkutan. Persepsi dan kesadaran mempunyai hubungan yang positif, karena makin diperhatikan objek oleh individu maka objek tersebut akan makin jelas dimengerti oleh individu itu sendiri.

KERANGKA BERFIKIR

Masyarakat memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda tentang adanya pendidikan pada anak usia dini. Dengan adanya persepsi yang dimiliki oleh  masyarakat sacara umum , lambat laun akan menciptakan sebuah label atau citra mengenai keberadaan pendidikan anak usia dini (PAUD). Adanya label yang telah dibentuk oleh masyarakat secara umum tersebut akan mempengaruhi masyarakat lainnya dalam mengambil keputusan untuk memberikan pendidikan anak usia dini (PAUD) kepada anaknya atau tidak. Pengambilan keputusan tidak hanya didasari oleh adanya lebel yang telah dibentuk oleh masyarakat, melainkan oleh faktor-faktor lain misalnya faktor ekonomi dan latar belakang pendidikan mereka. Adanya faktor-faktor tersebut akan memunculkan dua sikap yang bebeda dengan hasil (output) yakni, masyarakat yang memberikan pendidikan anak usia dini (PAUD) kepada anaknya dan masyarakat yang tidak memberikan anaknya pendidikan anak usia dini (PAUD).

METODE PENELITIAN

1)      Dasar Penelitian

Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor metode kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2004:3).

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah berbentuk kata-kata lisan yang mencakup laporan dan foto. Penelitian kualitatif ini tidak bertujuan menguji atau membuktikan teori, tetapi teori yang ada dikembangkan dengan menggunakan data-data yang dikumpulkan.

Penelitian ini adalah penelitian yang mengarah pada penelitian studi kasus. Studi kasus adalah studi yang mengekplorasi suatu masalah dengan batasan yang terperinci, memiliki pengambilan data yang dilakukan mendalam dan menyertakan berbagai sumber yang dapat memperkuat data yang ada (Purnomo, 2010:19). Berdasarkan hal itu, penelitian ini merupakan gambaran sebenarnya dari apa yang ditemukan di lokasi penelitian, yang kemudian dianalisis dengan berpedoman pada fakta yang ada, untuk kemudian dituangkan dalam bentuk analisis dengan penjelasan yang mendetail mengenai permasalahan pada penelitian ini. Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa setiap data dan fakta yang diperoleh tidak boleh ada intervensi atau campur tangan dari pihak-pihak lain  yang berniat mengaburkan atau mengubah data dan fakta yang ditemui dalam lapangan penelitian. Penelitian berupa deskriptif ini diharapkan hasil penelitiannya mampu memberikan gambaran riil mengenai kondisi di lapangan sehingga tidak hanya berupa sajian data belaka.

2)      Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah satu elemen yang penting dari sebuah penelitian, karena disana lah seorang peneliti dapat memperoleh berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang ditelitinya.

Lokasi penelitian dapat diartikan sebagai tempat dimana peneliti akan melakukan penelitian guna memperoleh data. Dalam penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora, hal itu  karena pendidikan anak usia dini telah mulai diperhatikan oleh masyarakat sekitar dengan didirikannya dua lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni, Taman Kanak-kanak dan Kelompok bermain (Play Group). Di samping itu, lokasi tersebut dekat dengan peneliti sehingga akan lebih memudahkan akses peneliti dalam memperoleh data atau informasi.

3)      Fokus Penelitian

Fokus penelitian sendiri merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif, hal tersebut karena suatu penelitian tidak dapat dimulai tanpa adanya masalah, baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman penelitian atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah. Jadi fokus penelitian dalam suatu penelitian kualitatif sebenarnya merupakan masalah itu sendiri. ( Moleong, 2002:62).

Dari konsep tersebut yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah

a)      Persepsi para orang tua di Desa Ledok dengan adanya lembaga pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group).

b)      Perkembangan yang ditunjukkan oleh anak dari masyarakat desa Ledok  yang mengikuti pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group).

4)      Subyek Penelitian

Subyek penelitian dapat diartikan adalah sebagai target penelitian yang akan memberikan segala informasi terkait masalah penelitian. Sehingga kedudukannya dalam suatu penelitian sangat penting, kerena jika tidak ada subyek penelitian maka tidak ada informasi yang dapat diperoleh si peneliti.

Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah beberapa masyarakat desa Ledok terutama  para orang tua yang memasukkan anaknya ke dalam lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) seperti di Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (Play group) dan yang tidak memasukkan anaknya ke dua lembaga pendidikan anak usia dini tersebut.

5Informan penelitian

Kehadiran informan penelitian juga dianggap penting guna menambah data atau informasi dalam sebuah penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi informan penelitian adalah staf pengajar yang ada di Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (Play Group) yang ada di desa Ledok.

6) Sumber Data

Penelitian Dalam pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini, peneliti memperoleh sumber data berdasarkan 2 jenis sumber yaitu:

a) Data Primer, yaitu data yang langsung diperoleh dan dikumpulkan dari objeknya. Data ini diperoleh melalui wawancara dengan subjek penelitian dan informan yang ada di lapangan. Dalam penelitian ini subjek penelitian adalah orang tua yang memasukkan anaknya kedalam lembaga pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group) dan orang tua yang tidak memasukkan anaknya dalam kedua lembaga tersebut. Nantinya dapat diketahui bagaimana persepsi yang dimiliki oleh para orang tua baik yang memasukkan atau tidak memasukkan anaknya kedalam lembaga pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group) tentang pendidikan anak usia dini terhadap perkembangan anak prasekolah.

b)   Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh bukan dari objek secara langsung melainkan melalui suatu perantara tertentu. Pada penelitian ini data sekunder yang digunakan berasal dari buku-buku, hasil penelitian, dokumen, dan sumber-sumber yang relevan dengan tema penelitian ini.

7)  Metode Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian dibutuhkan adanya metode untuk mengumpulkan data terkait dengan masalah yang diteliti, agar data yang diperoleh dapat tersusun sesuai harapan. Metode pengumpulan data sangat tergantung pada tipe permasalahnya, jenis penelitian, serta situasi kondisi penelitian sendiri.Untuk itu pada penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan yaitu:

a)      Observasi

Metode pengumpulan data berupa observasi adalah teknik pengumpulan data yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis (Sugiyono, 2010:203). Observasi  dapat pula diartikan sebagai suatu pengamatan yang bertujuan untuk mendapat data atau informasi  tentang suatu masalah yang sedang diteliti. Dalam suatu penelitian observasi digunakan apabila penelitian tersebut menyangkut perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila objek penelitian tidak terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant. Observasi berperanserta (participant observation) mengharuskan seorang peneliti untuk masuk atau ikut serta dalam kegiatan terkait dengan masalah penelitian  yang dilakukan oleh sumber data atau informan. Sementara itu dalam observasi non participant?

b)      Wawancara

Dalam memperoleh data, selain menggunakan metode observasi peneliti juga menyertakan metode wawancara. Esterberg dalam Sugiyono (2010:317), wawancara merupakan pertemuan dua orang yang saling bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Metode wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data jika peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan ingin mengetahui hal-hal dari informan secara lebih mendalam. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan yang telah disusuan sebelumnya kepada orang yang bertindak sebagai informan dan subjek penelitian secara tatap muka. Hal itu agar kita dapat memperoleh data yang sesuai dengan masalah penelitian sehingga dapat digunakan sebagai materi dalam penelitian yang kita lakukan.

c)      Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara (Sugiyono, 2010:329). Hasil wawancara dan observasi akan lebih dapat dipercaya atau memiliki nilai kredibilitas jika didukung dengan adanya sebuah bukti konkrit, baik berupa tulisan, gambar hidup, atau karya-karya monumental seseorang. Dokumen berupa gambar, misalnya saja foto dan sketsa, dokumen berupa tulisan misalnya catatan harian, biografi, dan sejarah kehidupan serta dokumen yang berbentuk karya misalnya patung dan film.

1.)    Teknik Analisis Data

Bogdan dalam  Sugiyono ( 2010:334) mengatakan analisis data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan bahan-bahan lainnya secara sistematis agar dapat dipahami atau dimengerti sehingga temuan dalam penelitian dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan dalam penelitian kualitatif sifatnya lebih induktif, dimana analisis berdasarkan data yang telah diperoleh kemudian dikembangkan ke dalam pola hubungan tertentu dan menjadi sebuah hipotesis. Hipotesis yang telah didapatkan, selanjutnya dikaji lebih dalam lagi sehingga nantinya diperoleh kesimpulan akhir apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak.

Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif artinya data yang dianalisa dalam bentuk deskriptif fenomena tidak berbentuk angka atau koefisien tentang hubungan antar variabel, sehingga tidak membutukan analisis secara statistik. Patton dalam Moleong (2000:103) ,tahapan analisa data adalah sebagai berikut:

a)      Pengumpulan data

Dalam pengumpulan data , peneliti mencatat semua data secara obyektif, sehingga apa yang dicatat adalah sesuai dengan data dari hasil observasi dan wawancara di lapangan.

b)      Reduksi data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlanya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat dengan teliti dan rinci. Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal pokok dan  memfokuskan pada hal-hal yang penting sehingga hal-hal yang tidak perlu atau tidak terkait dengan masalah penelitian dapat dihilangkan.

c)      Penyajian data

Setelah data selesai direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan selanjutnya. Teks naratif sering digunakan untuk penyajian data dalam penelitian kualitatif.

d)     pengambilan keputusan atau verifikasi

verifikasi adalah pemeriksaan terhadap hasil penelitian. Hal ini dilakukan agar diketahui benar tidaknya hasil dari penelitian yang telah kita reduksi ,untuk kemudian dapat dibuat kesimpulan yang dapat dipercaya kebenarannya.

2.)    Validitas Data

Dalam hal pengujian validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2005:330). Denzin dalam Moleong ( 2005:330) menjelaskan adanya empat teknik triangulasi antara lain menggunakan sumber, metode, penyidik, dan teori. Triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lain. Dalam penelitian ini pemeriksaan dilakukan pada sumber penelitian atau subjek penelitian , yang meliputi (1) para orang tua, (2) guru Taman kanak-kanak (TK), dan guru Kelompok bermain (Play group).

Dengan adanya triangulasi data, peneliti dapat melakukan cek ulang terhadap data yang diperoleh dari sumber penelitian diatas, sehingga nantinya data yang akan dianalisis adalah data yang valid dan dapat dipercaya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta:  Rineka Cipta.

Moleong, J. Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Purnomo, Arif. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri  Semarang.

Sugiyono. 2008.  Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:  Alfabeta.

Syah, Muhibbin.2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Walgito, Bimo. 2002. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: ANDI


 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2011 in Tugas Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: