RSS

Ketidaksetaraan Gender dalam Pendidikan

30 Nov

Banyak laki-laki mengatakan, sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Mereka haruslah sosok kuat, tidak cengeng, dan perkasa. Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar, ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya.

Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga menunjukkan, menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif, emosional, dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois, tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja.

Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat. Hal yang ideal yang diharapkan oleh semua pihak pastilah adanya kesetaraan gender, namun apabila kita amati bahwa dalam kenyataanya yang terjadi justru adanya bias gender atau ketidaksetaraan gender. Bias gender dapat terjadi dalam berbagai hal termasuk pula dalam bidang pendidikan. Seperti apakah bentuk dari ketidaksetaraan gender atau bias gender dalam bidang pendidikan, khususnya di sektor pendidikan formal misalnya di sekolah?.


Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang, hal itu mengingat bahwa melalui pendidikan seseorang dapat memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang disampaikan melalui kegiatan atau proses selama belajar-mengajar, misalnya saja KBM (kegiatan belajar-mengajar) di sekolah. Namun apakah yang mereka dapatkan disekolah merupakan hal yang ideal atau justru sebaliknya. Berikut ini kita akan melihat apakah pendidikan di Indonesia sudah menerapkan transfer ilmu melalui proses pengajaran yang ideal atau tidak.

Proses pendidikan yang efektif memang di mulai di lingkungan keluarga, namun daripada itu pendidikan formal seperti di sekolah juga sama penting bagi seseorang. Hal tersebut karena dalam pendidikan formal seseorang juga diberikan penanaman nilai-nilai. Sehingga salah atau benarnya nilai-nilai yang diajarkan dalam proses pembelajaran selama di sekolah juga akan mempengaruhi pemikiran seseorang.

Gender dimaksudkan sebagai suatu pensifatan antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara social dan budaya oleh masyarakat. Pendidikan yang ideal harusnya menanamkan adanya nilai-nilai tentang kesetaraan gender bukan sebaliknya yakni menanamkan nilai-nilai yang secara tidak langsung mengandung unsur bias gender.

Berkaca pada pendidikan dalam negeri maka hal yang dapat kita tangkap adalah bahwa belum semua institusi pendidikan di Indonesia yang sudah menghapuskan jenis pembelajaran yang mengandung unsur bias gender. Berikut adalah contoh konkrit adanya penanaman nilai-nilai yang secara tidak langsung mengandung unsur bias gender, khususnya dalam proses pembelajaran.

Contoh konkrit dari adanya penanaman nilai-nilai yang secara tidak langsung mengandung unsure biasa gender mungkin dapat kita lihat pada pendidikan di sekolah dasar. Ketika duduk di sekolah dasar, anak-anak Indonesia pasti sudah akrab dengan kalimat-kalimat seperti: Ibu Memasak di dapur; Ani mencuci piring, ayah pergi ke kantor, Amin bermain sepak bola. Lazimnya, kalimat-kalimat tersebut juga dilengkapi dengan gambar ilustratif agar si anak lebih imajinatif dalam memahami deretan kata-kata itu. Misalnya, gambar seorang ibu yang sedang memasak di dapur, ayah yang sedang bekerja di kantor atau di proyek bangunan. Itu semua menunjukkan bias jender. Selain contoh tersebut masih ada contoh lain yang menunjukkan adanya bias gender didalam pendidikan formal atau sekolah yakni kaitannya dengan interaksi. Dalam hal pemberian tugas terhadap siswa juga terdapat bias jender. Tugas-tugas yang diberikan kepada anak laki-laki umumnya berbeda dengan tugas yang diberikan kepada anak-anak perempuan.Misalnya pada mata pelajaran “keterampilan”, anak-anak putri akan diberi tugas yang bersifat feminin seperti membuat kristik, membuat bunga hias dari kertas, membuat taplak meja, dan menyulam. Jenis keterampilan ini dipandang sebagai wilayah kaum putri. Sedang kaum anak laki-laki diberi tugas yang maskulin seperti menggergaji, memahat, memotong kayu, dan membuat sapu. Kegiatan ini dipandang sesuai dengan sifat anak laki-laki.

Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa, yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis, ia akan mengatakan “Masak laki-laki menangis. Laki-laki nggak boleh cengeng”. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya, ia akan mengatakan “anak perempuan kok tidak tahu sopan santun”. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya.Di sadari atau tidak , hal tersebut seolah menanamkan pengertian kepada siswa mengenai apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan.

Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik, lembut, dan melayani. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah, kuat, dan berani. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang.Singkatnya, ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci, penakut atau bukan laki-laki sejati.

Kenyataan itu mencerminkan bagaimana peranan pendidikan dasar dalam mengonstruksikan pengetahuan anak-anak mengenai sifat-sifat maskulin dan feminin yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan, serta relasi sosial antara keduanya. Padahal, itu semua lebih merupakan bangunan sosial yang patriarkhis.

Fenomena adanya bias gender dalam pendidikan dasar patut dicermati mengingat tujuan dasar pendidikan adalah membebaskan dan memerdekakan manusia dari belenggu-belenggu yang membuatnya jadi tidak manusiawi. Jika pendidikan yang punya hakikat dan orientasi semacam itu sudah tidak bebas dari “ketidakadilan” maka tidak mengherankan bila pada wilayah-wilayah lain terjadi hal yang sama. Karena itu, masalah “sistem pengetahuan” yang melandasi kegiatan pendidikan yang merupakan pilar awal dan dasar bagi pembentukan wawasan dan kepribadian manusia tak bisa di diamkan lebih lama lagi.

Dalam konteks ketidakadilan gender, pembenahan terhadap dunia pendidikan merupakan prioritas yang tak bisa ditunda lagi. Di sini pendidikan dasar harus disertakan sebagai bagian dari kerja besar untuk memperbaiki wajah interaksi manusia yang lebih sensitive dan sensible terhadap gender. Generasi mendatang tidak perlu mereproduksi “kesalahan” yang sama. Mengingat bahwa pendidikan merupakan proses vital dalam hidup manusia, maka perlu pembebasan komponen-komponen pendidikan dari bias gender. Dalam hal ini pihak yang paling berkompeten tentu Depdiknas, sekolah, dan guru secara pribadi.

Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan, sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. Dari tiga pihak tersebut, Depdiknas-lah yang mempunyai peran besar. Seharusnya Depdiknas bisa mengubah dan menata kembali GBPP, dan terutama materi pada buku-buku paket. Sebabnya adalah, pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar masih “bergantung” dan mempunyai muatan sentralistik dari pusat. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender.

Selain itu, guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Dalam pekerjaan pembebasan ini Depdiknas tidak perlu sendirian menyangganya, tetapi bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang terpusat pada tema-tema keadilan gender. Sedangkan sekolah dan guru lebih banyak bekerja pada segi-segi interaksional dalam praktik pendidikan sehari-hari. Mereka yang menjadi subyek utama, dalam menerapkan perilaku mesti berwawasan keadilan gender sehingga anak pun mempunyai acuan dan teladan yang relevan dengan kebutuhan netralisasi bias gender.

Referansi

Mustofa, Helmi .2002. alumnus Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, anggota Kelompok Belajar “Malam Sunyi” Yogyakarta.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 30, 2011 in Sosiologi Gender

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: